Ketua Prodi Manajemen STIE Prima Graha “Mahasiswa Seharusnya”

Ketua Prodi Manajemen STIE Prima Graha “Mahasiswa Seharusnya”

Lembarberita.co.id, Serang – Kampus merupakan tempat produsen wacana keilmuan dari berbagai sudut.

Entah itu dari segi ekstakta, non eksakta maupun pelbagai disiplin ilmu lainnya. Tak salah jika kampus dikatakan sebagai ladang wacana, kawah opini dan pabrik pemikiran yang dilempar kepada khalayak umum.

Yang menarik adalah sejarah panjang mahasiwa, dimana-mana dalam setiap aktivitas mahasiswa, baik aktifitas akademik maupun aktifitas organisasi atau aktifitas sosial lainnya, simbolisasi mahasiswa yang paling jelas terlihat adalah almamaternya.

Sebuah jas yang beragam warna sesuai dengan warna kampusnya. Dengan memakai jas almamater seakan-seakan mempresentasikan mahasiswa lebih akademis dibanding siswa, lebih ilmiah dan lebih ideologis dibanding masayrakat umum.

Memakai jas almamater dirasa mempunyai psikologi ego tersendiri ditengah-tengah struktrus sosial masyarkat.

Tapi pernahkah sang mahasiswa tersebut, duduk sejenak sambil minum kopi sembari memikirkan tentang almamater tersebut?.

Sedikit merenungi, almamater itu apa sebenarnya, sejarahnya bagaimana, asal muasalnya dari mana dan pada awalnya almamater diperuntukkan untuk apa?.

Kalau melihat kondisi mahasiswa jaman now, sedikit meminjam istilah kekinian atau peristilahan sosioligsnya mahasiswa era milenial, kita berani berasumsi bahwa masih sangat sedikit mahasiswa yang mengetahui tentang hal itu.

Hanya ada segelintir dari sekian banyak mahasiwa itupun kesyukuran luar biasa kalau ada. Perbandingannya mungkin, jika dikalkulasi secara statistik hanya ada tiga sampai empat orang diantara seratus yang paham tentang almamater.

Mari kita sejenak berjalan kebelakan, berjalan kebelakang yang saya maksud disni bukan untuk mengenang masa lalu yang berakibat susahnya untuk move on terhadap sesuatu, bukan pula untuk memberhalakan sejarah karena akan menjebak kita pada konservatif dan kejumudan wacana sehingga kreatifas dan pembaharuan pemikiran sulit untuk diaktualisasikan.

Berjalan kebelakang yang saya maksud disini adalah berefleksi, berkontemplasi dan menganalisa ulang segala sesuatu yang sempat hadir dilintasan pikiran kita.

Oleh karenanya peran, fungsi, target, dan tujuan dari gerakan mahasiswa harus mampu mengorganisir dengan baik, serta memiliki tujuan, sasaran dan target dari gerakan yang konseptual, karena sesungguhnya “kejahatan yang terorganisir, pasti akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”. (Supriadi, SE. M.M)

Tinggalkan Balasan