Miris, Puluhan Tahun Warga Ciwandan Hirup Debu Industri

Lembarberita.co.id, Cilegon – Warga di lingkungan Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, bertahun-tahun hidup di tengah polusi yang ditimbulkan oleh aktivitas sejumlah industri di wilayah setempat.

Salah satu persoalan klasik yang dialami warga adalah masalah debu yang diduga ditimbulkan oleh aktivitas PT Growth Jaya Industry (GJI) atau dulu lebih dikenal PT Indoferro.

Lisdawati (35), salah satu warga yang tinggal di RT002/RW001, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan mengaku persoalan debu yang diduga ditimbulkan akibat aktivitas pabrik milik PT GJI tersebut sudah sangat memprihatinkan.

Setiap harinya, kata Lisdawati, warga yang tinggal di sekitar pabrik pengolah nikel itu berjibaku dengan debu. Bahkan debu seolah jadi ‘makanan’ sehari-hari warga yang jumlahnya mencapai 40 KK itu.

“Udah (debu,red) jadi makanan sehari-hari pak. Bukan cuma debu dari pabrik pak, tapi debu dari mobil-mobil truk yang lewat sini juga sangat mengganggu. Tiap harinya kami nyapu lantai rumah bisa lebih dari tiga kali,” kata Lisdawati kepada Awak Media saat ditemui di warung miliknya, Kamis (19/9/19).

Teh Lis, sapaan akrabnya- mengaku debu yang ditimbulkan cukup membuat warga tidak nyaman. Bahkan, tak sedikit warga sekitar kerap mengalami batuk, sakit tenggorokan maupun gangguan pernafasan.

Ia pun khawatir, polusi udara yang ditimbulkan tersebut bisa berdampak pada kondisi kesehatan anak-anaknya di masa mendatang. Terutama yang masih balita. “Jadi gampang batuk pilek pak. Kasian anak-anak kecil,” imbuhnya.

Sebulan Setop Aktivitas

Senada diungkapkan Masiah, warga lainnya. Ia bersama keluarganya, sejak lahir tinggal di sekitar area pabrik, bahkan sebelum pabrik tersebut berdiri sekitar 12 tahun yang lalu.

“Kalau kami sudah kebal pak, setiap hari makanannya debu. Sudah nggak ada lagi udara yang sehat di sini pak. Tapi ya mau gimana lagi, pada siapa kami mengadu,” ujar Masiah.

Wanita berkerudung ini pun lantas menceritakan bahwa sekitar setahun yang lalu, mayoritas warga setempat pernah terserang penyakit gatal kulit akibat munculnya debu berwarna hitam pekat yang berasal dari pabrik milik PT GJI.

“Itu debunya warna hitam mengkilap, bikin gatal-gatal di kulit. Karena debunya menempel di pakaian yang dijemur,” tutur wanita yang rumahnya hanya berjarak puluhan meter dari pabrik tersebut.

Warga kemudian menggelar aksi demo menuntut pertanggungjawaban pihak perusahaan atas pencemaran lingkungan tersebut. Pasca kejadian tersebut, pihak perusahaan sempat menyetop operasional pabrik.

“Sempat sebulan tutup setelah didemo. Tapi kemudian buka lagi. Dan sampai sekarang nggak ada perhatian dari perusahaan kaitan persoalan debu yang mencemari lingkungan ini,” imbuhnya.

Oki Yani (38), warga lainnya, mengaku perhatian perusahaan terhadap warga sekitar pun sangat minim. Bahkan, banyak pemuda-pemudi di tempatnya kesulitan mendapatkan lapangan pekerjaan.

Sekalipun di depan mata mereka berdiri industri besar, lanjut Bang Mayor, sapaan akrab Oki Yani- tetap saja peluang pekerjaan tak berpihak pada mereka.

“Sudah sering anak-anak muda di kampung kami yang masukin lamaran kerja di Indoferro (PT GJI,red) tapi nggak ada yang diterima. Cuma satu orang pemuda di sini yang diterima kerja di Indoferro. Artinya mayoritas warga cuma jadi penonton dan penikmat debu,” ungkapnya.

Hingga Cemari Masjid

Terpisah, Lurah Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Mas’udi Syah tak menyangkal pencemaran lingkungan yang terjadi di wilayahnya.

“Bukan mengganggu ya, tapi cukup membuat tidak nyaman. Bahkan debunya sampai masuk ke masjid,” ujar Mas’udi Syah saat ditemui di ruang kerjanya.

Mas’udi pun mengaku sejak menjabat 2017 lalu, kerap mengundang pihak perusahaan untuk membahas masalah pencemaran yang terjadi di lingkungannya.

“Sempat saya pertanyakan ke mereka (managemen perusahaan,red) soal masalah itu. Mereka mengakui memang ada keterbatasan peralatan untuk mengatasi masalah polusi,” ucapnya.

Meski begitu, Mas’udi menyebut polusi tak hanya dipicu oleh aktivitas pabrik nikel saja, namun sejumlah industri lain yang ada di wilayahnya pun turut menyumbangkan polusi udara dan pencemaran lingkungan.

“Ya seperti itulah kondisinya. Dan kondisi ini memang sudah menjadi persoalan klasik bagi masyarakat yang hidup di kawasan industri,” katanya.

Klaim Sudah Ada Perbaikan

Sementara, Manager HSE PT Growth Java Industry Ade Alamsyah memastikan, polusi udara atau debu, merupakan cerita masa lalu saat pabrik tersebut masih menggunakan nama PT Indoferro.

Menurutnya, pengelolaan polusi dari pabrik nikel di bawah bendera PT GJI, jauh lebih baik ketimbang yang dilakukan pada masa PT Indoferro.

“Kami rasa polusi udara dan pencemaran lagi ya. Karena teknologinya sudah berubah. Yang tadinya kami menggunakan blast furnace, sekarang sudah memakai electric furnace. Jadi saya rasa teknologi yang sekarang ini lebih ramah lingkungan,” kata Alamsyah via sambungan telepon.

Ade pun sempat menyayangkan mengapa PT GJI yang kerap jadi sorotan kaitan polusi udara dan debu. Sebab, kata dia, pabrik milik PT GJI sendiri dikelilingi sejumlah pabrik pengolahan batu split yang menurutnya turut menyumbangkan polusi dan pencemaran cukup besar.

“Kenapa PT GJI yang selalu disorot. Ya tapi Alhamdullilah, masyarakat masih mengingatkan PT GJI, kami bersyukur,” imbuhnya.

Kaitan peluang kerja bagi warga sekitar, Ade pun memastikan pihak perusahaan memprioritaskan warga sekitar untuk bisa bekerja di perusahaan tersebut. “Kami malah prioritas warga yang ada di sekitar,” tandasnya. (Tim/Red)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *