Polri : Provokasi Medsos Membuat Masyarakat Papua Marah, Sorong Mencekam

Lembarberita.co.id, Jakarta – Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, menduga penyebab kerusuhan yang terjadi hari ini di Manokwari, Papua, berasal dari provokasi masif dari akun-akun di media sosial.

Karena itu, Tim Siber Bareskrim akan melakukan profiling jika terbukti adanya pelanggaran hukum, maka akan ditindak tegas.

“Ada provokasi dari akun-akun media sosial,” kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri.

Pernyataan Dedi ini senada dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menyebutkan adanya kabar hoaks yang beredar masif di masyarakat Manokwari soal kejadian di Surabaya.

“Itu yang membuat masyarakat di sana marah,” ujar Dedi.

Informasi tersebut soal pengepungan asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya, Jumat (16/8). Mereka dituduh merusak bendera merah putih yang dipasang di depan asrama.

Suasana pengepungan itu kabarnya tersiar di media sosial. Ada informasi simpang siur termasuk informasi hoaks tentang meninggalnya mahasiswa Papua akibat isu tersebut di media sosial.

Ditambah lagi setelah kejadian di Surabaya beberapa aktivis Papua sudah menyebar beberapa poster seruan aksi melalui medsos. “Besok monyet turun ke jalan seruan”

“Kami dipandang monyet. Dan monyet-monyet itu akan segera turun ke jalan. Anda yang merasa harga diri hancur, segera gabung.” “Kita akan desak Indonesia tinggalkan kami.” Juga tertulis: “bersatulah monyet-monyet, lawan bangsa manusia yang menjajah!”.

Sementara itu, untuk mencegah terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Ikatan Keluarga Sunda, Jawa, dan Madura (Ikaswara) mengingatkan warganya agar lebih berhati-hati. Seruan itu disampaikan oleh Ketua Umum Ikaswara di Sorong, Tupono.

“Kami mengimbau seluruh warga Sunda, Jawa, dan Madura di Sorong dan sekitarnya harus waspada. Jangan mudah terprovokasi,” kata Tupono dalam siaaran persnya hari ini (19/8).

“Warga jangan mudah terprovokasi. Hindarilah jalur-jalur pergerakan massa agar tak terkena dampak kerusuhan,” paparnya.

Tupono juga mengutarakan agar warga superhati-hati jika ingin membuka usahanya di Sorong. Ia menyarankan, lebih baik warga tidak membuka usaha dulu samai kondisi memungkinkan.

“Untuk anak-anak sekolah, sebaiknya saat pergi dan pulang dijemput atau diantar. Ini akan lebih menjamin keamanan,” paparnya.
(yusvin)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *