Kasus Pembantaian Puluhan Karyawan di Duga, Mandor Pemicunya

Lembarberita.co.id, Jakarta – Koordinator Gereja Kingmi di Tanah Papua, Kabupaten Jayawijaya, Pendeta Esmon Walilo mengatakan, mandor PT Istaka Karya bernama Jonny Arung, diduga sebagai pemicu peristiwa pembantaian puluhan karyawan Istaka Karya di Kali Yigi dan Kali Aurak, Kabupaten Nduga, Papua, pada Minggu (2/12/18) lalu.

“Orang ini sebagai kontraktor, dia sebagai saksi kunci menurut kami gereja. Aparat keamanan harus cari dan bawa dia ke depan hukum,” kata Esmon di kantor Amnesty Internasional Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu kemarin.

Anggota Tim Kemanusian Kabupaten Nduga ini juga menduga, Jonny telah melanggar kesepakatan masyarakat sipil di Papua, dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Kesepakatan itu juga, berlaku bagi masyarakat non-Papua. Dalam kesepakatan itu, seluruh orang non-Papua, harus sudah meninggalkan sejumlah distrik, sebelum 24 November 2018.

“Sebab, saat itu sudah memasuki masa menjelang perayaan natal, dan peringatan hari kemerdekaan Papua Barat, pada 1 Desember,” ungkap Esmon.

Seluruh pekerja proyek pembangunan Trans Papua itu, sebetulnya telah menjalankan kesepakatan tersebut. Akan tetapi, Jonny Arung masih berada di wilayah itu, dan melanggar kesepakatan lainnya, yakni mengambil gambar perayaan tersebut.

Warga Nduga juga sudah mengimbau, agar Jonny tidak melakukan hal itu. Sebab, akan terjadi masalah besar jika diketahui oleh Egianus Kogoya, pimpinan dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)-OPM.

Namun, hal itu tak diindahkan Jonny. “Setelah hal itu diketahui oleh anak buah Egianus, Jonny sempat akan dibunuh,” katanya.

Nasib beruntung masih ditangan Jonny. Saat akan ditembak, para Pendeta yang ada di sekitarnya, langsung merangkul Jonny. Anggota OPM itu tidak berani menembak, dan hanya melewati para pendeta tersebut.

Lebih lanjut, Esmon meminta pemerintah untuk memintai keterangan Jonny, agar masalah terkait Nduga bisa diselesaikan.

“Supaya dia mempertanggungjawabkan apapun yang terjadi. Dia pasti bisa jelaskan ke muka publik, apa yang sebenarnya terjadi,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Teratai Hati Papua, Pater Jhon Jongga menilai, Jonny Arung adalah orang misterius dan bermasalah.

Berdasarkan keterangan dari beberapa karyawannya, Jonny Arung juga tidak membayarkan gaji mereka selama beberapa bulan.

“Nah, ini sekarang dia disembunyikan oleh siapa? Kami juga tidak tahu dan siapa dia itu,” katanya.

“Ya tidak diketahui berarti dia macam tidak disentuh oleh hukum. Padahal, dia yang menjadi penyebab atau pemicu kasus-kasus itu disana (Nduga),”sambungnya lagi.

Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hasegem mengatakan, korban meninggal atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Kabupaten Nduga, Papua, ada 182 orang.

Berdasarkan hasil investigasi timnya, korban meninggal itu disebabkan oleh beberapa hal.

“Meninggal karena sakit, hidup lama di hutan. Melahirkan dan meninggal tidak ada pertolongan medis. Ada yang meninggal karena lapar,” katanya di Kantor Amnesty Internasional Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat. (yusvin)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *