Kilang Bocor Cemari Laut, Pertamina Pertaruhkan Kesehatan Nelayan

Lembarberita.co.id, Jakarta – Muhammad Hasan (53), salah seorang warga Dusun Sukamulya, Desa Pusaka Jaya Utara, Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat, turut membantu petugas membersihkan tumpahan minyak di Pantai Cilebar.

Dia mengaku ikhlas membantu membersihkan tumpahan minyak yang menyentuh bibir pantai. “Saya ikut prihatin dengan musibah ini,” ujarnya.

Meski begitu, dia mengapresiasi upaya Pertamina yang dianggapnya begitu antusias, dan sigap dalam menangani tumpahan minyak. “Semoga peristiwa ini dapat segera diselesaikan,” ujarnya, Sabtu (27/7).

Hasan adalah salah satu dari puluhan warga, bersama petugas yang ikut membersihkan pesisir Karawang. Mereka saling berbagi tugas, ada yang mengeruk pasir, memasukkannya ke dalam karung dan memindahkannya ke pusat penampungan yang sudah ditentukan.

Pantai Cilebar merupakan salah satu pantai yang terdampak tumpahan minyak dari Anjungan YY, yang dikelola Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Kebocoran minyak dan gas yang terjadi pada, Jumat (12/7) lalu, telah mencemari laut dan pesisir Karawang, hingga kawasan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.

Namun, menurut Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Susan Herawati, Hasan dan tetangga-tetangganya, tidaklah ikhlas-ikhlas betul dalam membantu menangani tumpahan minyak.

Masyarakat pesisir memang diminta Pertamina untuk turun memungut tumpahan limbah.

Tumpahan limbah di pesisir itu, harus dikumpulkan di karung yang dapat menampung 5 sampai 10 kg limbah.

Sebagai upah jeri payah, masyarakat diberi upah sebesar Rp100.000. “Per-hari nelayan turun ke laut dan mengumpulkan 50 sampai 60 karung limbah tumpahan minyak di laut,”ujar Susan.

Dikatakan Susan, limbah yang dikumpulkan nelayan, akan diserahkan ke Badan Pengawas setiap hari, dan nelayan akan menerima upah tanpa mengetahui risiko berbahaya dari limbah yang tumpah ke laut,” ujar Susan menyesalkan.

Susan menyatakan, KIARA melihat ini sebagai tindakan kejahatan lingkungan yang mengerikan. Nelayan diminta turun mengambil limbah, tanpa memikirkan bagaimana limbah B3 yang tumpah ke laut itu adalah material yang berbahaya. “Ini melecehkan nelayan,” kata Susan.

Dari laporan lapangan yang dikerjakan KIARA, kerja gotong-royong oleh masyarakat menangani limbah di pesisir, terjadi di beberapa desa yang dekat dengan tumpahan minyak.

Adapun desa yang itu, yakni desa Camara, Kecamatan Cibuaya, Desa Sungai Buntu, Kecamatan Pedes, Desa Petok Mati, Kecamatan Cilebar; Desa Sedari, Kecamatan Pusaka Jaya, Desa Pantai Pakis, Kecamatan Batu Jaya, Desa Cimalaya, Desa Pasir Putih, Kecamatan Cikalong; Desa Ciparage, Kecamatan Tempuran, dan Desa Tambak Sumur, Kecamatan Tirtajaya.

Tidak hanya mencemari kawasan lautan sekitar, permasalahan ini juga berdampak pada kesehatan nelayan dan masyarakat pesisir yang secara langsung membantu membersihkan limbah-limbah minyak, maupun yang bertempat tinggal tidak jauh dari kawasan pencemaran.

Bau menyengat limbah minyak dan gas, menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat pesisir kawasan pantai Karawang, dan Muara Gembong, selama beberapa hari terakhir ini.

Limbah yang bocor akibat permasalahan kebocoran minyak dan gas ini, merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

“Harusnya ada standar penanganan yang tepat harus dilakukan Pertamina untuk menangani limbah B3 ini. Dan bukannya menempatkan nelayan dalam situasi rentan pada kesehatannya,” kata Susan.

Susan mengungkapkan, masyarakat pesisir, kini mulai merasakan dampak bahaya pada kesehatan mereka. Banyak masyarakat pesisir yang mengeluhkan tangannya panas, ataupun gejala pusing dan mual yang mulai dirasakan.

Butuh waktu yang cukup lama untuk dapat mengembalikan keadaan laut yang tercemar tersebut.

“Butuh waktu yang lama juga, bagi nelayan dan masyarakat pesisir sekitar, yang harus rela kehilangan sumber utama penghidupannya, dan berhadapan dengan limbah B3,” tegasnya

“Pertamina harus bertanggung jawab, bukan hanya merestorasi kembali pesisir dan laut yang rusak, tapi juga harus memastikan nelayan, dan masyarakat bahari bisa kembali melaut,”Susan menambahkan. (yusvin/net)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *