Identitas Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Filipina Masih Dicek

Lembarberita.co.id, Jakarta – Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, mengatakan masih berkoordinasi dengan Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, guna memastikan identitas bomber bunuh diri di Gereja Katedral, Jolo, Filipina.

Sejauh ini, Kemenlu sedang melakukan rekonfirmasi, agar Pemerintah Indonesia tidak keliru mengenai identitas pelaku bom bunuh diri.

Rencananya, DNA pasangan suami istri bomber gereja di Filipina itu, akan dibandingkan dengan DNA yang lain.

“Berita itu (pelaku bom bunuh diri adalah WNI) masih dugaan, masih belum confirmed. Sekarang, proses rekonfirmasi sedang dilakukan dengan penelitian-penelitian yang terkait lagi dengan DNA. DNA orang yang dicurigai sebagai pelaku. Oleh sebab itu, proses rekonfirmasi dengan penelitian DNA pembanding dan lain sebagainya,” Retno menerangka saat berada di Gedung Pancasila, Kemenlu Rabu (24/7) kemarin.

Kalau memang belum dilakukan pengecekan DNA, lalu dari mana Polri yakin bomber bunuh diri memang berasal dari Indonesia?

Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, mengatakan institusi Bhayangkara mengetahui bomber bunuh diri gereja Katolik itu merupakan WNI, berdasarkan lima orang tersangka yang ditangkap otoritas Filipina.

Namun, agar semakin yakin, Polri akan menguji secara ilmiah kebenaran jasad kedua pelaku.

“Dari sisi scientific, Densus 88 sudah bekerja sama dengan kepolisian Filipina untuk pelaksanaa tes DNA beberapa potongan tubuh yang didapat di lokasi kejadian,” ujar Dedi, dan DNA kedua pelaku akan dicocokan dengan pihak keluarga yang ada di Sulawesi Selatan.

Polri memastikan, usai DNA nya dicocokan dan dinyatakan identik dengan pelaku, maka informasi itu akan disampaikan secara resmi.

“Informasi ilmiah akan menguatkan keterangan sementara yang sudah ditangkap di Filipina,” tutur dia.

Sebelumnya, ketika memberikan keterangan pers, Dedi mengatakan, bomber bunuh diri kemungkinan adalah WNI. Keduanya merupakan pasangan suami istri, bernama Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani.

Selain diperkuat keterangan lima tersangka yang ditangkap di Filipina, Polri juga mendapatkan keterangan senada dari teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sumatera Barat, bernama Novendri alias Abu Zahran alias Abu Jundi.

“Setelah penangkapan saudara Novendri dan penangkapan Yoga (Teroris JAD Kalimantan Timur ditangkap Juni 2019), ternyata pelaku bomber di Filipina, adalah dua orang Indonesia atas nama Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh. Ini yang diduga sebagai pelaku suicide bomber di Filipina,” ungkap Dedi dalam Konferensi Pers di Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan pada Selasa (22/7) lalu.

Kedua tersangka menurut Polri, masuk ke Filipina lewat jalur ilegal. Sehingga, identitas dua pelaku tidak terdata dengan baik di Filipina. “Sehingga, kita tidak bisa mengidentifikasi pelaku suicide bomber,” kata dia.

Dedi mengatakan, kemungkinan Rullie dan Ulfah bersedia menjadi bomber bunuh diri, karena otaknya telah dicuci atau dipengaruhi.

Adapun pelaku yang mempengaruhi, diduga bernama Andi Baso. Sementara Baso, hingga saat ini masih berstatus buron, dan masih menetap di Filipina selatan.

Lanjut Dedi, dalam melancarkan aksi terornya, dua pelaku pengeboman di Jolo Filipina itu, diduga dikendalikan seseorang yang berstatus daftar pencarian orang (DPO), bernama Saefulah alias Daniel alias Chaniago.

Saefulah juga diduga sebagai mastermind, atau aktor intelektual dalam melancarkan aksi terornya.

Saefulah, menurut Dedi, saat ini berada di wilayah Khorasan, Afganistan. Alasan Saefulah ada di wilayah itu karena, pasca kekalahan ISIS di Suriah, kekuatan pimpinan tertinggi Abu Bakr Al Baghdadi, langsung pecah.

“Saat ini kekuatan ISIS sudah mengarah ke suatu daerah, yaitu di Khorasan Afghanistan. Ini daerah abu-abu, daerah perbatasan yang tidak bisa dikontrol oleh suatu pemerintah, itu sebabnya mereka kuat di situ,” ujar dia.

Dari hasil keterangan Novendri, dan usai polisi mengetahui mastermind, adalah Saefulah.

Densus 88 bekerja sama dengan beberapa kepolisian, seperti PDRM, kepolisian Filipina, Afghanistan, termasuk beberapa negara lain seperti AFP, Amerika Serikat dan sebagainya. (yusvin/net)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *