BMKG : Wilayah Potensi Kekeringan di Indonesia

Lembarberita.co.id, Jakarta – Sejumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi mulai mengalami kekeringan. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, wilayah yang terdampak kekeringan berada di Desa/Kecamatan Warungkiara.

Namun di desa tersebut terdapat dua dusun yang mengalami kekeringan terparah, yakni Cibungur dan Bojongmalang yang air sumur warganya mengering.

Akibat mengeringnya air sumur milik warga, kini mereka bergantung pada sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meski begitu, bukan perkara mudah bagi warga mendapat air bersih yang dipakai untuk kehidupan kesehariannya. Lantaran tak ada layanan PDAM yang bisa menjangkau, sehingga warga harus berjalan kaki hingga dua kilometer.

“Sumur warga sudah mulai mengering, jadi warga hanya mengandalkan mata air yang jaraknya kurang lebih 2 kilometer,”ujar Yandi, salah satu perangkat Desa Warungkiara, , Selasa (25/6).

Yandi mengatakan, ada sekitar 400 keluarga yang mendiami dua kedusunan tersebut, dan Ia berharap ada bantuan pipanisasi agar air dari mata air bisa dengan mudahnya dijangkau warga.

“Dari itu saya berharap adanya bantuan Pipanisasi dari Pemerintah,”pintanya.

Selain berdampak pada sumur, kekeringan juga kali ini juga menyebabkan belasan hektar sawah milik warga kering.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merilis peta potensi kekeringan di Indonesia.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal menyebutkan, sejumlah kondisi yang berpotensi terjadi di Indonesia.

“Monitoring terhadap perkembangan musim kemarau menunjukkan berdasarkan luasan wilayah, 35 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dan 65 persen wilayah masih mengalami musim hujan,” ujar Herizal.

Disebutkan, wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi pesisir utara dan timur Aceh, Sumatra Utara bagian utara, Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan bagian tenggara, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, pesisir dalam perairan Sulawesi Tengah, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan.

Dijelaskan pula, musim kemarau tidak berarti tidak ada hujan sama sekali. “Beberapa daerah diprediksikan masih berpeluang mendapatkan curah hujan. Pada umumnya prospek akumulasi curah hujan 10 harian ke depan, berada pada kategori Rendah (<50 mm dalam 10 hari),” jelas Herizal.

Meski demikian, lanjut Herizal, beberapa daerah masih berpeluang mendapatkan curah hujan kategori menengah dan tinggi.

Curah hujan kriteria Menengah (50 – 150 dalam 10 hari) diprakirakan dapat terjadi di pesisir Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan bagian barat, Jambi bagian barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah bagian utara, Sulawesi bagian tengah, Papua Barat bagian utara dan Papua bagian utara.

Curah hujan kriteria Tinggi (>150 dalam 10 hari) diprakirakan dapat terjadi di pesisir timur Sulawesi Tengah, dan Papua bagian tengah.

Terkit data dari BMKG dan beberapa Lembaga Internasional terhadap kejadian anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan, kondisi El Nino Lemah. Sedangkan Anomali SST di wilayah Samudera Hindia, menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

“Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga Oktober November Desember (OND) 2019,” tambah Herizal.

Herizal mengimbau agar masyarakat waspada dan berhati-hati terhadap kekeringan yang bisa berdampak pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan, pengurangan ketersediaan air tanah (kelangkaan air bersih), dan peningkatan potensi kemudahan terjadinya kebakaran.

Memasuki puncak musim kemarau, BMKG menyatakan ada dua provinsi yang berstatus awas berpotensi kekeringan. Dua provinsi tersebut meliputi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Untuk potensi awas di wilayah Jawa Timur, BMKG mengemukakan dua daerah yakni, Sampang dan Malang. Sedangkan untuk wilayah NTT diwaspadai di semua wilayah tersebut.

Lebih lanjut , Herizal mengemukakan ada kriteria yang dinyatakan dalam kategori awas yakni, terkait dengan curah hujan yang rendah dan tidak adanya hujan selama 61 hari.

“Status Awas karena telah mengalami lebih dari 61 Hari Tanpa Hujan (HTH) dan prospek peluang curah hujan rendah di bawah 20 milimeter per dasarian pada 20 hari mendatang lebih dari 80 persen,” kata dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (25/6).

Selain daerah tersebut, sebagian besar Yogyakarta, Indramayu (Jawa Barat), dan Buleleng (Bali) juga berstatus Awas.

Sejumlah daerah berstatus Siaga atau telah mengalami lebih 31 HTH, dan prospek peluang curah hujan rendah, yakni di bawah 20 milimeter per dasarian pada 20 hari mendatang lebih dari 80 persen.

Daerah tersebut, yaitu Jakarta Utara, Lebak, dan Tangerang Provinsi Banten, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian besar Jawa Tengah.

Herizal mengatakan, berdasarkan monitoring terhadap perkembangan musim kemarau menunjukkan berdasarkan luasan wilayah, 35 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dan 65 persen masih musim hujan.

Wilayah yang telah memasuki musim kemarau, meliputi pesisir utara dan timur Aceh, Sumatera Utara bagian utara, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan bagian tenggara, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, pesisir dalam perairan Sulawesi Tengah, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan.

Namun katanya, musim kemarau tidak berarti tidak ada hujan sama sekali. Beberapa daerah diprediksikan masih berpeluang mendapatkan curah hujan. Pada umumnya prospek akumulasi curah hujan 10 harian ke depan, berada pada kategori rendah atau kurang dari 50 mm dalam 10 hari.

Meski demikian, katanya, beberapa daerah masih berpeluang mendapatkan curah hujan kategori menengah dan tinggi.

Curah hujan kriteria menengah, yaitu 50-150 mm dalam 10 hari diprakirakan dapat terjadi di pesisir Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan bagian barat, Jambi bagian barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah bagian utara, Sulawesi bagian tengah, Papua Barat bagian utara, dan Papua bagian utara.

Curah hujan kriteria tinggi atau lebih dari 150 mm dalam 10 hari, diprakirakan dapat terjadi di pesisir timur Sulawesi Tengah dan Papua bagian tengah.

Pantauan BMKG dan beberapa lembaga internasional terhadap kejadian anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan kondisi El Nino Lemah, sedangkan annomali SST di wilayah Samudera Hindia menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Kondisi itu diperkirakan berlangsung setidaknya hingga Oktober, November, dan Desember 2019.

Karnanya, masyarakat diimbau waspada dan berhati-hati terhadap kekeringan yang bisa berdampak pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan, kekurangan air bersih, dan peningkatan potensi kemudahan kebakaran. (yusvin/net)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *