Lembarberita.co.id, Serang – Kepolisian Resort Serang Kota melalui Sat Reskrim berhasil mengungkap dan menangkap dua pelaku tindak pidana pencurian yang di sertai dengan kekerasan yang meresahkan masyarakat di wilayah Serang Kota pada saat acara liris di Mapolres Serang kota, Banten, Kamis (13/9).

Adapun kedua pelaku tersebut memilih korbannya seorang wanita yang dianggap lemah, kedua pelaku tersebut yakni berinisial As dan Lh yang berhasil ditangkap diluar Banten, hasil pengungkapan kasus pelaku pencurian dengan kekerasan/perampokan bersenjata, dengan barang bukti sejumlah uang tunai, senjata tajam, sejumlah rokok dan pistol mainan. Penangkapan berawal dari adanya laporan kejadian tindak pidana pencurian dengan kekerasan di perusahaan waralaba wilayah Sumur Pecung.

Kapolres Serang Kota AKBP Komarrudin mengatakan, kedua
pelaku telah melakukan aksinya di empat Waralaba yang
Tepatnya H+2 setelah Idul Fitri di Pabuaran,
Pada hari minggu di Curug, dan
Idul adha di Pasar Rau serta yang terakhir di Sumur Pecung. Kedua
Pelaku mengatakan melakukan aksinya di hari libur Nasional karena mengetahui omset pendapatannya yang lebih besar.

“Memang setelah kita dalami bahwa pelaku As ini masih aktif menjadi karyawan Waralaba tersebut sudah bekerja selama 12 tahun, sedangkan LH mantan atau pernah bekerja di perusahaan Waralaba. Akan tetapi untuk saat ini ia bekerja di perusahaan lain,” jelasnya.

Menurutnya, pola yang mereka lakukan sama di empat tkp, LH berperan sebagai yakni berpura-pura sebagai pembeli sambil melihat situasi, As yang berada di luar untuk melakukan atau membantu masuk ke dalam dengan membawa cerurit dan LH membawa pistol mainan yang digunakan untuk menakut-nakuti karyawan untuk membuka brangkas uang, sedang pelaku lainya merusak drafft atau mencuri drafft, dan memasukan isi brankas kedalam tas baru serta meninggalkan korban digudang dan mereka meninggalkan tempat kejadian.

“Adapun motif pelaku melakukan kejahatan tersebut dengan alasan ekonomi sekaligus rasa kecewa dengan management sistem atau aturan yang diterapkan oleh perusahaan tapi itu mungkin tidak bisa dijadikan alasan karena alasan utamanya alasan ekonomi karena dilihat dari tkp pertama bahkan sampai terakhir uangnya dibayarkan untuk membayar hutang,” tegasnya. (Sunah)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *