4,6 Ton Daging Celeng Ilegal Dimusnahkan

Lembarberita.co.id, Cilegon – Petugas Karantina setelah berhasil mengamankan daging celeng pada hari Jumat (20/7), dan akhirnya Petugas Karantina melakukan pemusnahan daging celeng di Kantor pemusnahan, Cilegon, Banten, Senin (23/7).

Sebanyak 4,6 ton daging celeng dimusnahkan oleh Petugas Karantina Cilegon Kelas II dan di saksikan oleh Anggota Kepolisian, Pengadilan Serang serta semua anggota muspida.

Pemusnahan dilakukan dengan menggunakan mesin pembakar sampah, incenerator dengan suhu diatas 1.200 derajat Celcius.

Kepala Badan Kementrian Pertanian Banun Harpini mengatakan “Masalah penyelundupan daging celeng ini sudah menjadi perhatian kami, karena potensi ancaman penyakit bagi kesehatan masyarakat,” kata Banun.

Keberhasilan penggagalan upaya penyelundupan daging celeng ilegal ini dimotori oleh tim kolaborasi intelejen karantina, Intelligence Collaboration (Intelect) dengan personil yang berasal dari Karantina Cilegon dan Lampung, melibatkan KSKP Merak, Polres Cilegon, dan Polda Banten.

“Sinergi ini merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden nomor 3 tahun 2017 tentang Peningkatan Efektifitas Pengawasan Obat dan Makanan dimana Kementerian Pertanian dalam hal ini Badan Karantina Pertanian melakukan sinergi kolaborasi dan kerjasama dalam pemeriksaan sarana produksi terkait cara produksi pangan olahan yang baik untuk pangan olahan asal hewan dan tumbuhan,”jelasnya.

Dari aspek keamanan dan kesehatan, daging celeng ilegal memiliki potensi yang sangat membahayakan kesehatan manusia, hal ini terjadi karena daging celeng berasal dari babi hutan yang tidak jelas status kesehatannya, dipotong-dikemas-dan dikirim, sehingga potensi mengandung penyakit sangat tinggi.

“Salah satu risiko zoonosis, penyakit menular dari hewan ke manusia yang dapat ditularkan melalui daging celeng adalah penyakit Sistiserkosis. Penyakit ini disebabkan oleh larva cacing pita berbentuk cyste pada bagian daging celeng yang apabila terkonsumsi dapat bersarang di otak manusia sehingga mengakibatkan meningitis dan gangguan otak lainnya atau disebut neurosistiserkosis, dan juga dapat menyerang mata, otot dan lapisan bawah kulit dari tubuh manusia,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini ada tiga orang pelaku masih dilakukan pemeriksaan untuk proses penyidikan. Mereka bertanggungjawab dan terkena ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) sebagaimana diatur dalam Pasal 31 UU No. 16 Tahun 1992.

Ia menambahkan, Badan Karantina Pertanian berkomitmen dan senantiasa siaga untuk memastikan komoditas pangan baik hewani dan nabati yang dilalulintaskan melalui tempat pemasukan dan tempat pengeluaran terjamin kesehatannya serta tidak membahayakan bagi kesehatan manusia dan generasi mendatang,” tambahnya. (Siti Masunah)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *