15 Tahun Menjabat, Mantan Ketua RT Pertanyakan Pemotongan Honorarium Oleh Foker – C Kota Cilegon

Lembarberita.co.id, Cilegon – Forum Komunikasi Rukun Warga dan Rukun Tetangga Kota Cilegon (Foker – C), diindikasi tidak trasparan dalam pemotongan Honorarium Ketua Rt/Rw Se-kota Cilegon.

Sesuai yang diungkap Dwi Qorry salah satu pendiri Foker – C dan pernah menjabat ketua RT di Kelurahan Ciwaduk Kecamatan Cilegon selama 15 tahun, pada saat dirinya menjabat dikenakan pomotongan honorarium Rt sebesar 100.000 yang peruntukan sebagai iuran asuransi kematian untuk ketua Rt ataupun Ketua Rw yang masih menjabat. Jum’at (13/07/18)

“Iya saya kan salah satu pendiri Foker – C Kota Cilegon yang kurang lebih berdiri selama 20 Tahun sampai saat ini, dan saya pun pernah menjabat Ketua Rt Dikelurahaan Ciwaduk, yang dimana selama saya menjabat kurang lebih 15 tahun saya di kenakan pemotongan honor ketua RT sebesar 100.000 per tiga bulan, yang diperuntukan sebagai iuran asuransi kematian, dan jika saya meninggal pada saat masih menjabat ketua RT ataupun RW keluarga saya menerima uang dari pihak asuransi sebasar 15 juta.” ujar Qorry

Qorry pun menambahkan adanya indikasi kejanggalan yang ada didalam kepengurusan Foker – C di perkuat setelah dirinya tidak menjabat sebagai ketua Rt.

“Saya berhenti menjadi ketua rt kisaran 5 tahun yang lalu dan selama 15 tahun menjabat saya membayarkan iuran asuransi sebesar 100 ribu dan kalau diakumulasi kisaran 6 juta uang yang saya berikan kepada pihak Foker – C, itu pun jika dipukul rata 100 ribu semua tetapi kan faktanya saya pun mengalami iyuran Foker – C yang 200 ribu per tiga bulan hanya untuk asuransi yang tidak pernah saya terima manfaatnya, dan yang saya pertanyakan jika saya sudah tidak menjabat seperti sekarang ini maka dikemanakan uang saya yang sudah masuk untuk iuran asuransi tersebut dan saya yakin bukan hanya saya saja yang mempertanyakan hal seperti ini pasti semua mantan-mantan ketua RT ataupun ketua RW yang sudah tidak menjabat mempertanyakan hal yang sama, soalnya iuran tersebut diberlakukan kepada semua ketua RT dan RW se-Kota cilegon kurang lebih dari 20 tahun yang lalu.” jelas Qorry.

Ditempat terpisah Asep Saepudin selaku ketua Foker – C Kelurahaan warnasari saat dikonfirmasi diruang kelurahaan warnasari menyampaikan benar adanya pemotongan honor ketua RT dan RW. Senin (09/07/18)

“Jadi begini dulu ada asuransi jiwasraya dan bosoa sekitar tahun 2015 dan 2016 yang sudah berjalan, dan potongan honor ketua RT dan ketua RW itu pertahun bukan per tiga bulan yang dimana biaya potongan tersebut sebesar 200 ribu per orang dan asuransi tersebut untuk uang kematian jika ketua RT atapun ketua RW yang masih menjabat meninggal dunia, dikarenakan pihak asuransinya tidak profesional maka diputuslah oleh pihak Foker – C yang dimana jika pihak Foker – C meng klaim asuransi itu lama bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dicairkannya sehingga pihak Foker – C merasa tidak sesuai dengan harapan sehingga pihak Foker – C Kota Cilegon berinisiatif untuk tidak melanjutkan pembayaran premi kepada asuransi tersebut.”ungkap Asep

Asep pun menambahkan terbentuknya koperasi Foker – C yang dikelola oleh pihak pengurus Foker – C kota cilegon yang bertujuan untuk kepentingan anggotanya sudah sesuai dengan hasil kesepakatan dan musyawarah.

“Terbentuknya Koprasi Foker-C Kota Cilegon itu sudah sesuai dengan hasil musyawarah mufakat dengan tujuan untuk kepentingan anggota Foker-C Kota Cilegon agar setiap kețua RT ataupun ketua RW yang meninggal dunia pada saat masih menjabat kita bisa memberikan uang kematian kepada keluarga almarhun dan jika ketau RT ataupun ketua RW yang sudah habis masa priodenya maka uang yang terkumpul semasa jabatanya akan dikembalikan kembali kepada masing-masing anggota yang sudah habis masa jabatannya agar tidak seperti yang dulu-dulu.” jelas asep.

Ditempat terpisah menurut salah satu ketua RT yang di wilayah kelurahaan citangkil yang enggan disebutkan identitasnya menyampaikan adanya pemotongan honor ketua RT dan ketua RW tidak pernah ada kesepakatan dengan semua ketua RT dan RW se-Kota cilegon.

“Alah kesepakatan dari mana orang saya aja tidak pernah ditanya sepakat atau tidaknya toh tiba-tiba saya honor saya dipotong dan kalaupun musyawarah itu hanya ketua atau pengurus Foker-C kelurahan dan kecamatan saja ketau RT dan ketua RW yang tidak tergabung dalam kepengurusan mah tidak pernah diundang dan diajak musyawah.” ungakapnya.

Sementara itu, Ketua Foker-C Kota Cilegon, Kusmaeni saat dikonfirmasi dikantor Foker-C Kota Cilegon enggan berkomentar dengan alasan sedang mempersiapkan data dan informasi yang akurat. Minggu (16/07/18)

“Nanti aja ya kalau ingin lebih jelas kita siapkan dulu data-datanya soalnya saya menjabat baru tiga tahun dan dari kepengurusan yang lama kita tidak ada penyerahaan data-data penunjang buat bahan keakuratan informasi untuk media lembarberita.co.id.” ujar Kusmaeni. (Red)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *