Ada Indikasi “Kencingan” Kimia Berbahaya di Cilegon, DLH Enggan Berkomentar

Lembarberita.co.id – Cilegon, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLH) Kota Cilegon Ujang Iing, enggan berkomentar terkait adanya indikasi kencingan kimia berbahaya di lingkungan Sumur Wuluh, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol.

Saat Reporter lembarberita.co.id mendatangi kantor DLH Kepala DLH Ujang Iing mengenai indikasi adanya kencingan kimia, enggan berkomentar.(22/06)

“Kami baru tau adanya indikasi kencingan kimia yang berlokasi di lingkungan sumur wuluh kelurahaan gerem kecamatan grogol dan kami berterima kasih banyak atas informasi ini, maka kami meminta waktunya sampai hari senin besok untuk memberikan tanggapannya,” kata Ujang.

Setelah menunggu hingga Senin ini, DLH tidak memberikan komentar apapun, bahkan saat dihubungi Via Whatsapp tidak membalas. Bahkan hingga berita ini diturunkan tidak ada komentar apapun.

Di tempat yang berbeda, Dedi selaku ketua Komite Pemuda Peduli Lingkungan (KOPLING) Saat dimintain tanggapannya melalui telfon selulernya menyampaikan, terkait adanya indikasi kencingan kimia dengan pihak DLH Kota Cilegon sudah menjadi ranahnya untuk menindak lanjuti informasi yang disajikan oleh media lembarberita.co.id. (25/06)

“Terkait kencingan kimia yang sempat diberitakan oleh media lembarberita.co.id ada keterkaitannya dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup D Kota Cilegon karna domainnya adalah domain DLH Kota Cilegon, dan seharusnya pihak DLH menguji standart kelayakan mutu, apakah barang yang disimpannya dilapak tersebut limbah berbahaya, beracun dan berbau atau tidak, dan sekalian di uji juga udara sekitar berbahaya atau tidak untuk masyarakat sekitar dan jika berbahaya gunakan Standar Oprasional Prosesnya sebagai sangsi atau efek jera terhadap pelaku bisnisnya jangan terkesan tidak menanggapi seperti ini.”ujar Dedi melalui telfon selulernya

Dedi pun menambahkan bukan hanya DLH saja yang mampu menindak lanjuti adanya indikasi kencingan kimia tersebut.

“Kalo kita berbicara kencing berarti ada keterkaitan penegak hukum setempat karna berbicara “Kencingan” berarti berbicara kegiatan yang diduga ilegal dan berpotensi merugikan pihak yang menggunkan jasa trasportir kendaraan, maka seharusnya pihak DLH dan Pihak Penegak Hukum mampu berkordinasi untuk menindak lanjuti pemberitaan ini jangan terkesan acuh tak acuh seperti ini.”ujar Dedi dengan nada guyon (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *